Lupis yang menjadi makanan yang sering di minati warga kota medan

Kalau orang berbicara soal jajanan khas yang sering dijumpai di Kota Medan, banyak yang langsung teringat bika ambon atau bolu. Padahal masih ada satu jajanan tradisional yang sampai sekarang tetap punya penggemarnya, yaitu lupis. Makanan ini BEJOTOTO memang tidak selalu dijual di setiap jalan besar, tetapi di banyak kampung dan pajak tradisional Medan, penjual lupis masih bisa ditemukan sejak pagi hari.

Biasanya, sebelum jam tujuh pagi, gerobak atau meja jualan sudah mulai disiapkan. Penjual datang membawa bakul besar yang berisi lupis yang masih dibungkus daun pisang. Dari luar memang kelihatan sederhana, tetapi begitu daun pembungkusnya dibuka, aroma beras ketan langsung tercium. Wanginya bercampur dengan harum daun pisang yang sudah terkena uap panas saat proses memasak.The Soft, Chewy Lupis Cake Recipe is an All-Time FavoriteDi atas meja juga sudah tersedia parutan kelapa yang masih segar dan gula merah cair yang dimasak sampai mengental. Warnanya cokelat tua mengilap. Kalau disiram ke atas lupis, tampilannya langsung menggugah selera.


Begitu ada BEJOTOTO LOGIN pembeli datang, tangan penjual langsung bekerja tanpa banyak bicara. Daun pisang dibuka perlahan, lalu lupis dipotong menjadi beberapa bagian menggunakan benang atau pisau kecil supaya bentuknya tetap rapi. Setelah itu ditaburi kelapa parut yang sudah diberi sedikit garam agar rasanya tidak hambar. Terakhir, gula merah cair disiram sampai menutupi hampir seluruh permukaan lupis.


Kelihatannya memang sederhana, tetapi perpaduan rasa manis gula merah, gurih kelapa, dan kenyalnya beras ketan membuat banyak orang tetap mencarinya sampai sekarang.


Di Medan, pembeli lupis datang dari berbagai kalangan. Ada yang baru pulang dari pajak, ada pegawai yang singgah sebelum masuk kantor, ada pula anak sekolah yang lebih memilih jajanan tradisional daripada makanan kemasan.


Sering kali terdengar percakapan sederhana di depan lapak.


"Buk, gula merahnya BEJOTOTO DAFTAR banyak sikikk aaaa."


"Kelapanya jangan pelit lah agak di banyak in sikik aaa, biar mantap."


Penjual biasanya cuma tersenyum sambil menambahkan sesuai permintaan. Suasana seperti itu membuat pembeli merasa nyaman karena hubungan mereka sudah seperti langganan lama.


Lupis juga termasuk jajanan yang proses pembuatannya tidak mudah. Beras ketan harus direndam selama beberapa jam supaya teksturnya lembut. Setelah itu dibungkus satu per satu memakai daun pisang, kemudian direbus dalam waktu yang cukup lama. Kalau terlalu sebentar, ketannya masih keras. Kalau terlalu lama, teksturnya bisa menjadi terlalu lembek.


Karena itulah banyak penjual sudah mulai bekerja sejak tengah malam. Saat orang lain masih terlelap tidur, mereka BEJO TOTO sudah sibuk menyiapkan bahan di dapur. Semua dilakukan agar pagi harinya pembeli bisa menikmati lupis yang masih segar.


Yang menarik, banyak penjual di Medan masih mempertahankan cara lama. Mereka tetap menggunakan daun pisang sebagai pembungkus karena dipercaya memberikan aroma yang lebih harum dibandingkan menggunakan plastik atau wadah lain.


Selain rasanya yang enak, harga lupis juga masih tergolong ramah di kantong. Itulah sebabnya jajanan ini tetap diminati oleh banyak orang. Dengan uang yang tidak terlalu besar, seseorang sudah bisa menikmati makanan yang cukup mengenyangkan.


Di beberapa sudut Kota Medan, penjual lupis sering berdampingan dengan pedagang kue tradisional lainnya. Ada yang menjual lemper, nagasari, putu ayu, lapis beras, dan kue talam. Suasananya terasa hangat karena pembeli bebas memilih berbagai macam jajanan dalam satu tempat.


Kadang-kadang ada orang yang sengaja membeli beberapa bungkus sekaligus untuk dibawa ke kantor. Begitu kotaknya dibuka saat waktu istirahat, teman-teman langsung ikut mengambil karena jajanan seperti ini memang sulit ditolak.


Walaupun sekarang banyak makanan modern bermunculan, lupis tetap mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat Medan. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena membawa kenangan masa kecil. Banyak orang yang mengingat bagaimana dulu mereka sering diajak orang tua membeli lupis sepulang dari pajak.


Ada juga yang mengatakan bahwa menikmati lupis paling enak ditemani segelas kopi hitam atau teh hangat. Perpaduan BEJOTOTO rasa manis dan gurihnya membuat suasana pagi terasa lebih santai sebelum memulai pekerjaan.


Bagi para penjual, berjualan lupis bukan sekadar mencari keuntungan. Mereka juga menjaga resep yang sudah diwariskan turun-temurun dari keluarga. Tak sedikit yang masih memakai cara memasak yang sama seperti puluhan tahun lalu tanpa mengubah cita rasanya.


Hal seperti inilah yang membuat jajanan tradisional tetap bertahan di tengah banyaknya makanan kekinian. Orang mungkin penasaran mencoba makanan baru, tetapi pada akhirnya banyak yang kembali mencari rasa yang sudah akrab sejak kecil.


Lupis memang tidak memiliki bentuk yang mencolok atau hiasan yang mewah. Namun justru dari kesederhanaannya itulah muncul daya tarik yang sulit dijelaskan. Sekali mencicipinya, orang akan mengerti mengapa jajanan ini masih terus dicari sampai sekarang.


Di Kota Medan, keberadaan penjual lupis menjadi salah satu warna tersendiri di pagi hari. Mereka datang sebelum matahari tinggi, melayani pembeli dengan ramah, lalu pulang ketika dagangan hampir habis. Rutinitas itu terus berlangsung dari tahun ke tahun tanpa banyak berubah.


Selama masih ada orang yang menghargai jajanan tradisional dan selama masih ada penjual yang setia mempertahankan cara membuatnya, lupis akan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Medan. Walaupun zaman LINK BEJOTOTO terus berubah, rasa manis gula merah, gurih kelapa, dan kenyalnya ketan akan selalu mengingatkan banyak orang pada suasana pagi yang sederhana, hangat, dan penuh kenangan di sudut-sudut Kota Medan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *